Jumat, 26 Juni 2009

SUARA YOMAN WENDA

Menafsirkan Kembali Makna Pemuda sebagai Aktor Perubahan

PERTAMA. Kami Putra dan putri Indonesia, Mengakoe Bertoempah Darah Jang Satoe, Tanah Indonesia.
KEDOEA. Kami Poetera dan Poeteri Indonesia, Mengakoe Berbangsa Jang Satoe, Bangsa Indonesia.
KETIGA. Kami Poetera dan Poeteri Indonesia, Mendjoendjoeng Bahasa Persatoean, Bahasa Indonesia.

Kita pasti masih sangat hafal dan fasih dengan ikrar Sumpah Pemuda semacam itu. Jelas bukan persoalan yang mudah untuk merumuskan sebuah teks yang sanggup mengakomodasi aspirasi semua golongan ketika situasi masih sangat kental dengan warna lokal dan atribut-atribut lain yang berporos pada hal-hal yang bersifat kedaerahan. Namun, agaknya warna lokal dan berbagai atribut primordialisme semacam itu berhasil ditepis oleh para pendahulu negeri ini. Pada Kongres Pemuda II, 28 Oktober 1928 yang diprakarsai oleh PPPI (Persatuan Pelajar-Pelajar Indonesia), para peserta kongres yang terdiri dari wakil organisasi Pemuda seperti Jong Java, Jong Ambon, Jong Celebes, Jong Batak, Jong Sumatranen Bond, Jong Islamieten Bond, atau PPI, berhasil merumuskan sebuah tekad untuk menyatukan sikap nasionalisme yang mengakui tanah air, bangsa, dan bahasa yang satu, yakni Indonesia.

Dari sisi historis, memori kita juga tidak bisa menepis sebuah opini bahwa pada setiap zaman dan peradaban, kaum muda selalu tampil sebagai agen dan aktor perubahan. Secara kolektif, kaum muda bisa menjadi sebuah ikon pembaharu yang sanggup memberikan pengaruh dan imbas dahsyat dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Hal ini sangat beralasan, sebab dukungan fisik, semangat, dan talenta idealisme, sangat kuat tercitrakan pada sosok kaum muda. Momentum reformasi 1998 hingga berhasil menggeser rezim Orde Baru dari singgasana kekuasaannya pun tak luput dari peran kaum muda yang dipelopori oleh barisan mahasiswa kita.

Meskipun demikian, kita juga harus jujur mengakui bahwa dinamika kaum muda saat ini tidak selalu bergerak pada ranah pemikiran dan aksi yang cerdas dan mencerahkan. Tidak sedikit kaum muda yang gampang terjebak melakukan tindakan anomali sosial demi memanjakan nafsu dan ambisi sekelompok orang yang dengan amat sadar memanfaatkan potensi dan talenta mereka. Dalam pandangan awam saya, demo-demo anarkhis dan vandalistis yang ditandai dengan aksi perusakan fasilitas publik, bukanlah semata-mata inisiatif murni kaum muda yang ingin melakukan sebuah perubahan, melainkan diduga telah disetir dan digerakkan oleh kelompok tertentu yang paham betul tentang potensi gerakan kaum muda sebagai generasi pendobrak. Kelompok tertentu inilah yang dianggap dengan amat sadar melakukan gerakan-gerakan terselubung dengan memanfaatkan kaum muda sebagai tameng untuk menciptakan situasi keruh dan tidak menentu dalam upaya menggapai puncak ambisi dalam ranah kekuasaan.

Saya juga tidak tahu apakah analisis “bodoh” semacam itu memiliki tingkat relevansi kebenaran yang sesuai dengan realitas yang sesungguhnya atau tidak? Saya bukan pengamat sosial-politik, juga bukan intel yang memiliki data valid tentang gerakan-gerakan kaum muda yang dengan gampang disetir oleh kelompok-kelompok tertentu. Saya hanya menggunakan logika dan analisis amatiran yang saya kaitkan dengan realitas sejarah kaum muda pada masa masa pra-kemerdekaan yang demikian elegan dan ksatria sehingga sanggup menanggalkan kepentingan dan pamrih-pamrih sempit dalam situasi terjajah yang sangat tidak menguntungkan.

Saya juga hanya bermimpi negeri ini memiliki kaum muda yang sanggup menjadi aktor perubahan; sosok yang memiliki kecerdasan dalam berpikir, memiliki kedewasaan dan kearifan dalam bertindak, serta sanggup melepaskan ikatan-ikatan primordial sempit sehingga mampu memberikan pencerahan sosial di tengah-tengah publik. Kaum muda juga selalu menjadikan “sejarah sebagai guru kehidupan”; mampu mengejawantahkan makna “historia magistra vitae” dalam merumuskan langkah hari ini dan masa depan negerinya. Saya yakin, bahkan haqqul yakin, bahwa sosok kaum muda yang memiliki karakter semacam itu masih ada di negeri ini. Hanya saja mereka belum bisa tampil secara kloletif menjadi sebuah kekuatan prima yang sanggup melakukan perubahan.

Sungguh, kaum muda yang gampang terkena provokasi sehingga terjebak melakukan tindakan anarkhis dan vandalistis yang sangat tidak menguntungkan bagi publik, sejatinya telah menodai citra kaum muda sebagai aktor perubahan itu sendiri. Meski demikian, saya juga optimis bahwa suatu ketika kaum muda negeri ini bisa bangkit merapatkan barisan untuk melakukan “reinkarnasi” secara kolektif mengejawantahkan semangat para pendahulunya dalam upaya melakukan sebuah perubahan yang cerdas dan mencerahkan bagi kehidupan bangsa dan negerinya. Semoga mimpi dan optimisme itu bisa terwujud!

Pemberdayaan Masyarakat Papua, Langkah Nyata atau Sekedar Omongan saja pemerintah provinsi papua Oleh: detius yoman

Pemberdayaan Masyarakat Papua, Langkah Nyata atau Sekedar Omongan saja pemerintah provinsi papua

Oleh: detius yoman

Sekarang ini sering kita dengar ikhwal Pemberdayaan Masyarakat, sepengetahuan orang yang paham bahasa Indonesia artinya adalah upaya yang mejadikan masyarakat berdaya. Dan memang benar demikian maksud 2 kata tersebut. Program Pemberdayaan Masyarakat dinilai sangat tepat guna mamberantas kemiskinan. Tapi kenyataannya tingkat kemiskinan tetap tinggi, bahkan terasa hidup ini makin sulit saja.

Pemerintah telah mencanangkan program pemberdayaan masyarakat sebagai yang terdepan dalam pembangunan negara ini, dan tidak sedikit dana yang dialokasikan untuk program tersebut. Upaya positif Pemerintah ini hendaknya dimaknai dengan baik pula oleh seluruh pihak.

Mari sedikit berlogika dengan 2 kata “Pemberdayaan Masyarakat”. Pertanyaan pertama adalah : “apakah masyarakat kita selama ini belum berdaya ?” Jawabnya tentu beragam. Dan kalau kita tarik garis tengah sebenarnya untuk aspek sosial, masyarakat kita punya budaya “gotong-royong” yang adi luhung dan menjadikan mereka berdaya, antara lain mampu mengatasi kekurangan dari aspek ”kapital” yang masih kurang. Sebagai contoh sebuah hajatan pernikahan di kampung biasanya melibatkan seisi kampung, hingga segala sajian dan persyaratan hajatan seolah ditanggung bersama. Mereka saling berbagi beban, dan menikmati bersama-sama. Lantas apa yang menjadikan masyarakat kita perlu diberdayakan ? untuk menghadap apa ? Banyak hal yang dihadapi masyarakat, arus budaya luar yang cenderung individual dan gempuran pengaruh-pengaruh yang bernuansa politis yang masih sangat kurang dipahami oleh masyarakat. Umumnya masyarkat kita terutama di perdesaan terlebih di luar jawa memang masih sangat lugu, polos apa adanya. Hingga mereka tak paham dengan sisi yang harus diwaspadai dari adanya pengaruh-pengaruh luar tersebut. Selain itu, masyarakat juga menghadapi tantangan jaman. Mereka dituntut makin cerdas, bisa baca dan tulis, minimal paham bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi di negara ini, agar mereka bisa berkomunikasi dan menerima informasi dengan baik.

Ini semua yang menjadikan masyarakat membutuhkan pemberdayaan, bukan karena mereka masih bodoh, tapi karena harus makin tangguh menghadapi tantangan jaman dan cerdas bersikap dalam menghadapi pengaruh dari luar.

Lantas siapa yang sepatutnya memberdayakan mereka ? Bicara pelaku pemberdayaan, maka kita mau tidak mau harus memahami setiap tahapan pemberdayaan. Dalam suatu untuk meningkatkan kapsitas, akan lebih berdaya guna dan lestari, jika memang menjadi kesadaran diri sendiri, sehingga tahapan awal pemberdayaan masyarakat adalah proses penyadaran diri Masyarakat.

UNIVERSITAS TERBUKA KELAS EKONOMI

UNIVERSITAS TERBUKA KELAS EKONOMI #8: Kaum Bob Marley

Di 'buku' kuliah UT kelas Ekonomi jurusan Tanah Abang-Kota, saya melihat
sebuah 'halaman' kumuh, tempat para pemilik negara yang sebenarnya
bermukim dan bertempat tinggal. Saya katakan kumuh, karena memang tidak
layak disebut sebagai tempat tinggal. Sampe yan tahu, kumuh di Jakarta
artinya adalah tempat subur menyimpan dendam dan amarah. Disitulah
kebanyakan mahasiswa abadi UT bertempat tinggal. Di tempat yang terpojok
dan terdesak. Tempat tinggal para mahasiswa yang berstatus orang-orang
marginal, para ma ling, copet, pelacur, pengemis bercampur dengan para
penjual mie ayam, bakso, penjual barang bekas, penjual arang. Juga tempat
tinggal para pendakwah kebenaran, ustadz, kyai dan pendeta.

Saya menyebutnya kaum Bob Marley. Mungkin memang kebetulan jika seorang
Bob Marley - penggagas musik reggae itu - pernah tinggal di daerah kumuh
di wilayah Trenchtown, West Kingston sebelum menjadi seorang musisi dunia.
Tidak heran banyak lirik2 lagunya y ang menjeritkan penderitaan masyarakat
kelas marginal. Kebetulan juga, disalah satu dinding pemukiman kumuh
tempat para mahasiswa abadi UT itu tinggal terpampang lukisan grafitti Bob
Marley yang setiap saat saya saksikan setiap kali melewatinya, bersebela
han dengan lukisan bendera Jamaica, negara kelahiran Bob Marley. Di bawah
dinding itu terdapat tumpukan karung berisi arang batok kelapa yang
digunakan untuk membakar sate yang dijual oleh mahasiswa penjual sate
Madura. Tanah sekitarnya berwarna hitam leg am. Sementara di kanan kiri
dinding tersebut berserakan tumpukan kayu bakar.

Kembali ke dinding bergambar Bob Marley tadi. Saya selalu tercenung
menatap gambar tersebut setiap kali melewatinya. Kenapa gambar Bob Marley?
Siapa yang menggambarnya dan apa maksudnya melukis di tempat kumuh
tersebut? Saya hanya bisa menduga-duga. Kalau dipikir-pikir, lirik yang
dijeritkan Bob Marley kan bahasa Inggris, bagaimana mungkin para mahasiswa
ini memahami bahasa Inggris, sementara untuk menyambung nyawa esok hari
saja mereka harus bergulat mati-matian, bahkan sampai mati beneran!
Darimana mere ka tahu lirik2 lagu Bob Marley menyuarakan penderitaan?
Kenapa bukan gambar Rhoma Irama saja?

Mungkin itu yang dinamakan keajaiban musik. Reggae dan dang-dut sama-sama
menjeritkan penderitaan. Bedanya, reggae tidak saja menjadi semacam
katarsis bagi amanat penderitaan, tapi juga menjadi suara perjuangan
revolusi dan gerakan perlawanan kalangan mar ginal. Dangdut? Dia hanya
berhenti sebagai musik, sebagai hiburan dikala patah hati. Bahkan dang-dut
politiknya Rhoma Irama saja tidak menggerakkan apa-apa, selain tawuran
antar penggemar yang sama-sama tersinggung gara2 bokongnya saling
bersenggolan. Sel ebihnya, dang-dut hanya menyuarakan penderitaan yang
lain, penderitaan hati akibat putus cinta, cerai atau ditinggal mati! Itu
saja!

Gambar Bob Marley di dinding itu bukan main-main. Dia tidak sekedar
menyuarakan penderitaan kaum dang-dut, tapi lebih dari itu dia menyuarakan
penderitaan akibat ketertindasan. Penderitaan yang lebih fundamental, yang
berpotensi menggerakkan. Mereka kaum Bob Marley yang tidak tahu arti
lirik2 lagu Bob Marley, tapi dapat menangkap roh ketertindasan yang
disuarakan oleh Bob Marley. Gambar Bob Marley seakan mewakili gejolak
perasaan mereka. Siapapun yang menggambarnya, dia tahu arti dendam dan
amarah yang te rpendam. Tinggal menunggu waktu saja untuk dilampiaskan.
Jika kaum ini bergerak, siapa yang dapat menghentikannya? Them Belly Full

Minggu, 17 Mei 2009

RIWAT HIDUP

NAMA : DETIUS YOMAN

TTL : TIOM,12 Nopwmber 1984

JK : LAKI-LAKI

ANAK KE : 6 dari 7 saudara

Pendidikan :

SD : SD INPRES GIMBUK 1996/1907

SLTP : SLTP N 2 TIOM 1999/2000

SMU : SMU PGRI WAMENA 2002/2003

KULIAH : S-1 UNIVERSITAS DR.SOETOMO SURABAYA 2007/2008

JABATAN : DIREKTUR UTAMA CV.LANI NABUA YAMEWA

DAFTAR NAMA-NAMA SARJANA YOMAN WENDA

NO

NAMA

GELAR

1

DETIUS YOMAN

S.Sos

2

YAGANIUS YOMAN

SE

3

KELINA YOMAN

SE

4

LUSIUR WENDA

SE

5

GIMANUS YOMAN

SE

6

DOMI WENDA

SE

7

TILITON WENDA

SH

8

ELINIUS YOMAN

ST

9

RONY YOMAN

ST

10

TUNAS WENDA

SH

11

NIBEN YOMAN

STH,SH,MA

12

YAGANOGO YOMAN

SH

13

DEMAN YOMAN

SH

14

PARES LOOD WENDA

ST

15

NAPAR YOMAN

ST

16

NETU YOMAN

SH

17

DESI WENDA

ST

18

YULIES WENDA


18

YUSMAN WENDA


19

MATOREN WENDA


20

HERRY WENDA


21

WENAL YOMAN


22

YANDINA WENDA


23

DESINA WENDA


24

ERENIUS WENDA


25

KIRIS YOMAN


26

EMUR YOMAN


26

SOFYAN YOMAN


27

GIRIUS YOMAN


28

TAIBEN WENDA


29

TEUR WENDA


30

YAWENIUS WENDA


31

TARPIUS WENDA


32

SIEN WENDA


33

BAKARIUS WENDA


34

DANIUS WENDA


35

MURDAN WENDA


36

YOPI WENDA


37

OTIUS WENDA


38

ABEKENOK WENDA


39

KAINIUR YOMAN


40

DANY YOMAN


41

DEMETIUS YOMAN


42

YANIUS TELENGGEN


43

LAPI WENDA


44

MANIUS WENDA


45

YUSMAN YOMAN


46

AKANIUS WENDA


47

MADEN WENDA


48

NESMAN WENDA


49

HERMANUS WENDA


50

EREMUS YOMAN


51

MUIS WENDA


52

ATORIUS WENDA


53

NETON WENDA


54

URBANUS WENDA


55

ITAM WENDA


56

ERNES YOMAN


57

ANTON YOMAN


58

LIUR YOMAN


59

DAUT WENDA


60

YUNIUS WENDA


61

BESMAN WENDA


62

DERIUS YOMAN


63

ABENUS YOMAN


64

YESMAN YOMAN


65

LATIER YOMAN


66

TOREN YOMAN


67

DASMAN YOMAN


68

YAKUPUS JIGIBALOM


69

LAOEREN JIGIBALOM


70

YAPIT YOMAN


71

GERIUS YOMAN


72

ABENIUS WENDA



WELINTON WENDA